Kamis, 14 Mei 2020

Orang beriman adalah…



(Quran Surah Al-Mu’minun ayat 2-9)

1.       Orang yang khusyuk dalam sholatnya
Oke kalo sholat itu harus tuma’ninah, rasain bener2 setiap bacaannya, pahami artinya, inget bahwa sedang bertemu Allah, bahwa kelak akan kembali kepadanya, pake baju yang rapi, wangi.

2.       Orang yang menjauhkan diri dari perbuatan/perkataan yang tidak berguna
Tinggalin main game, nonton video2 youtube/Instagram yang sedikit gunanya, juga musik-musik, jangan mencela/mengumpat/ghibah orang.

3.       Orang yang menunaikan zakat
Ingatkan orang tua untuk bayar zakat, jangan lupa untuk senantiasa menyisihkan uang untuk sedekah.

4.       Orang yang menjaga kemaluannya
Gak boleh mendekati zina, apa pun bentuknya, gaboleh onani (meski ada juga yang mengatakan mubah), gaboleh nonton video porno, jaga hati/perasaan dari perempuan, tundukin pandangan baik offline maupun online.

5.       Orang yang menjaga amanah dan janji2nya
Catet utang piutang, selesaikan semua amanah dengan baik.

6.       Orang yang memelihara sholatnya
Jangan pernah nunda sholat!


Iman itu gak hanya di hati dan lisan, lalu tanpa pembuktian dengan ketaatan dalam mengerjakan seluruh perintah dan menjauhi larangannya kau kira sudah cukup. Layaknya cinta, iman perlu pembuktian kawan! Marilah kita penuhi seluruh persyaratan keimanan itu, jika kamu memang benar- benar orang beriman.

Senin, 13 April 2020

Hadapi atau mati?

Masalah akan selalu ada selama kita hidup.
Maka hanya ada 2 pilihan, hadapi atau mati. Karena tak mungkin bisa kita menghindar dari setiap masalah yang ada. Menghindar maka masalah lain mengincar.
Tapi mati, mengakhiri masalah di kehidupan dunia, sayangnya siksa akhirat menanti.

Tak perlulah takut menghadapi cobaan.
Jalani saja, toh pasti akan berakhir.
Entah dengan kemenangan atau dengan kekalahan, yang jelas kita pasti akan melewatinya.

Tapi, tentu kita ingin naik kelas. Berhasil menghadapi ujian, selamat dari cobaan. Maka berusahalah, juga berharap pada-Nya. Karena tak mungkin bisa hanya doa tanpa usaha, atau sebaliknya usaha tanpa doa. Yang pertama adalah kebohongan, yang kedua adalah kesombongan.

Hadapi, insyaAllah ada jalan!
InsyaAllah kita mampu!
Karena Allah telah berjanji, bahwa Dia takkan memberi ujian melebihi batasan kekuatan sang hamba.
Tidak percaya? Hati2 malah jadi kufur!




Minggu, 12 April 2020

Aku sadar itu kini

Apakah diriku telah tertutup, ketika berulang kali masih saja melakukan kesalahan yang sama?
Adakah kesempatan bagi diri yang kurang belajar dari kesalahan sebelumnya?
Apakah memang ini jalanku yang telah ditentukan? Hidup dalam persembunyian, mati dalam kehinaan, dibakar di perapian paling panas. 

Penyesalan selalu datang belakangan. 
Tapi sampai kapan begini lalu begitu? 
Menyesal, taubat, lalu berbuat salah lagi. 

Aku takut, tak mau dan tak akan mampu menghadapi siksaan neraka. 
Tapi aku juga tak merasa pantas di surga, meski ingin. 
Ya semua orang ingin surga, tapi seringkali dusta. 
Tak sejalan antara harapan dengan perbuatan untuk mendapatkan yang diharapkan. 
Padahal semua jelas, ada aturan yang berlaku. 

Apakah kita layaknya boneka yang dipaksa bersandiwara dengan peran- peran yang ditentukan, ataukah seperti kumpulan fungsi- fungsi IF pada kodingan program? 
Yang pertama tak mungkin ada pilihan, tapi yang kedua memungkinkan adanya pilihan dan konsekuensi dari pilihan yang kita ambil. Jika begini maka begitu. Jika beriman dan baik, maka surga. Jika kufur dan buruk, maka neraka. 
Aku pilih konsep kedua. Tapi rasanya konsep pertama seirama dengan diriku. Membuat diri terus bertanya apakah memang tempatku bukan di surga?

Aku pernah menuliskan, bahwa berteman dengan orang- orang baik dan tinggal di lingkungan baik membuat diri kita menjadi baik atau sekedar terlihat baik. Jadi aku yang mana? Kamu yang mana?
Apakah memang tertular menjadi lebih baik? Atau sekedar terlihat baik tapi sebenarnya tidak baik?

Jika ada virus penjangkit kebaikan, aku harap dia menjangkitiku.
Jika pun ada, aku takut antibodiku lebih kuat, sehingga mampu membunuh virus kebaikan itu.

Kebaikan tak mungkin bersatu dengan keburukan. Aku sadar itu kini.

Selasa, 07 April 2020

Semua Ada Waktunya

Yang lalu biarlah berlalu,
Kehidupan masih terus berjalan,
waktu terus bergulir, semakin dekat menuju akhir
Kamu hidup di masa kini dan akan sampai di masa depan,
tapi tak mungkin kembali ke masa lalu.,
Bukan menguburnya dalam-dalam,
karena tentu ada pelajaran yang didapat darinya.
Hanya saja, tak baik terus menerus larut dalam kenangan.
Jika itu kenangan baik, bisa jadi melenakan diri, merasa pancapaian sudah cukup tinggi, menguatkan diri untuk bersantai.
Jika tentang kenangan buruk, bisa jadi membuat diri semakin pesimis untuk melangkah ke depam.

Semua ada waktunya,
Tapi pesanku, jangan menunggu.
Meski kata kerja, menunggu terkesan pasif.
Lebih baik bergerak dan berjuang,
menciptakan momentum jika memang tak ada yang tersedia.
Terus memupuk diri, menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Bukan dengan bandingan dia, dia, atau dia, 
tetapi diri sendiri, si musuh terbesar sebenarnya.
Dengan berkarya, terus menebar manfaat.
Hingga kelak tiba waktunya,
giliranmu dipanggil.

Entah yang mana yang menghampiri lebih dulu,
apakah jodoh atau ajal,
yang jelas semua ada waktunya.


Selasa, 31 Maret 2020

Maret akan segera berlalu...


Seiring waktu yang terus berjalan,
Umur bertambah,
Usia berkurang,
Ajal mendekat.

Yang lama bertambah kuat.
Yang baru semakin bertambah.
Tapi bagaimana dengan kualitas?

Adakah bertambah taat
Atau justru masih saja bermaksiat?

Kelak menjadi hujjah
Atau malah penghujat?

Bagaimana dengan manfaat,
apakah kau semakin bermanfaat?

Tak peduli kau sendiri atau bersama,
Harusnya terus jadi baik hari ke hari.

Karena kau, bukankah kau bersamai kalam-Nya yang siapa pun melekat dengannya menjadi yang terbaik?

Dan Maret akan segera berlalu,
Sedang dirimu belum juga bangkit!

Target adalah target
Tanpa komitmen mana mungkin terwujud.

Senin, 23 Maret 2020

Sedih tidak, kecewa iya

Pekan depan adalah pekan UTS, dan semoga menjadi UTS terakhirku di masa perkuliahan S1 ini. Tidak terasa 5 tahun sudah berkuliah. Tersisa 10 orang dari 1 angkatan yang semula berjumlah 120 orang mahasiswa fisika UI angkatan 2015. Ada yang sejak semester awal menghilang, ada yang di-DO, ada yang pindah ke kampus lain, dan kebanyakan sudah lulus. Apakah ini menyedihkan?

Dengan berbagai pengalaman yang aku dapatkan selama 5 tahun belakangan tentu saja jawabnya tidakm tapi aku tetap menyesal. Menyesal tak mampu lebih maksimal dalam memanfaatkan masa- masa S1 ini. Aku belum cukup serius untuk menseriusi banyak hal termasuk kamu. Eh. 

Maksudku seperti akademis, aku belum punya publikasi satu pun, untuk urusan prestasi pun tak begitu baik, masih terlalu jarang mengikuti perlombaan yang akan meningkatkan pengalaman, urusan organisasi pun demikian, masih tak cukup serius menjalaninya. Bagaimana dengan dakwah? Ini yang paling ku sesali karena tidak maksimal. Harusnya sedari dulu bergaul dengan mereka yang memang butuh siraman rohani. Jiwa mereka hampa dan mereka sadar ataupun tidak. Seandainya ada yang bisa masuk ke lingkungan mereka, pasti akan banyak yang tertarik menuju pendalaman agama ini. Karena kita semua sudah dewasa harusnya. Mahasiswa bukan anak kecil lagi, kita tahu mana yang baik mana yang buruk. Dan fitrahnya manusia adalah berada dalam kebaikan atau seminimal berharap kelak di akhir hidupnya berada dalam jalan kebaikan. 

Aku tidak mengatakan diri ini suci, luput dari dosa. Tentu saja tidak demikian. Aku meyakini jalan yang saat ini ku tapaki, jalan dakwah adalah jalan yang benar. Meski akunya yang tidak benar, yang seringkali lalai dan abai. Bagi mereka yang saat ini nampak jelas keburukannya, bisa jadi di masa depan kelak mereka lah juru- juru dakwah di sana-sini. Dan kamu yang berada dalam jalan kebaikan di masa kuliah bisa jadi penjahat di masa depan. Kita tak pernah tahu, maka jangan pernah menjudge "dia mah neraka, dia mah surga". 

Lagi- lagi semua dikembalikan kepada diri sendiri. Semoga yang baik istiqomah dalam kebaikan, semoga yang buruk mendapat hidayah dan menggapai taufik sehingga kelak berada dalam jalan kebaikan. Kita tak pernah tahu kawan. Maka penting untuk ada yang mengingatkan. Karena layaknya domba yang sendirian, lebih mudah diterkam serigala daripada ketika dalam gerombolan. 

Dan aku, masih tetap dalam jalan dakwah ini.

Sabtu, 21 Maret 2020

Pemuda tak produktif

Pemuda itu, kalo gak memanfaatkan momentum ya menciptakan momentum.

Pemuda itu harusnya kreatif, inovatif, solutif, produktif. Karena punya energi besar yang kalo gak disalurkan untuk hal baik, bisa dipastikan disalurkan untuk hal yang buruk.

Lantas kamu bisa apa? Mengapa masih saja bermalas- malasan. Mati kutu atas kebijakan lockdown ini. Kalo tidak tidur, maen hp, makan, maen laptop, meski sesekali sholat, baca Quran, baca buku.

Di luar sana, bahkan di dalam rumahmu sendiri masih ada permasalahan. Bahkan hal yang mendasar kawan. Tentang akidah, penghambaan diri hanya kepada-Nya. Kamu sadar bukan bahwa keluargamu masih sering abai dan lalai, lantas mengapa tak ada langkah pasti yang kau ambil tuk jadi solusi?

Bahkan skripsimu masih belum berprogress sebulan berlalu masa seminar proposal. Kamu mau jadi apa? Kamu itu siapa? Bukankah kamu pemuda? Dai? Penghafal Quran yang berharap mengamalkan Quran? Tapi kamu masih saja begini.

Ayoo bangkit kawan!!!
Lawan kejahiliyahan pada diri dan lingkungan terdekatmu! Kiamat semakin dekat, begitupun kematianmu!

Tujuan hidup di bumi

Mengapa kita tercipta di dunia ini? Heh, kok tercipta, kesannya kalo gitu kita ada begitu aja tanpa ada yang menciptakan. Baiknya gunakan ...